Menuju Kesuksesan ASI Eksklusif

Masihkah ada yang tidak percaya bahwa semua ibu memiliki kemampuan untuk bisa menyusui secara eksklusif? Menyusui memang membutuhkan proses belajar yang melibatkan tidak hanya dari pihak ibu, tetapi juga bayi kamu. Oleh karena itu, hal yang normal jika kamu mengalami kesulitan menyusui. Namun, banyak ibu yang mengharapkan bisa ASI Eksklusif, bukan? Yuk, kita pelajari beberapa langkah sukses menuju ASI Eksklusif yang telah terbukti melalui penelitian.

 

1.  Mengikuti edukasi dan pelatihan menyusui

Tahap awal ini bisa dilakukan saat bayi masih dalam kandungan. Para calon ibu setidaknya perlu mengetahui manfaat menyusui secara eksklusif, teknik menyusui, dan beberapa langkah mengatasi masalah menyusui yang sering ditemukan [1]. Namun, teori tentu berbeda dengan praktik. Oleh karena itu, selama masa perawatan pasca melahirkan, ibu sebaiknya mencari bantuan pada petugas kesehatan apabila mengalami kesulitan [1]. Jangan sampai kamu pulang ke rumah bersama bayimu dengan kebingungan!

 

2.  Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Penelitian membuktikan IMD membantu menyukseskan ASI Eksklusif[1][3]. Hal ini dilakukan dengan melakukan kontak kulit ibu-bayi segera setelah melahirkan, selambat-lambatnya 30 menit setelah melahirkan [1] dan dibiarkan minimal satu jam tanpa interupsi[3]. Bayi mungkin belum bisa menyusu secara spontan selama kontak 45 menit-2 jam, tapi kontak kulit ibu-bayi sebaiknya dilakukan sesegera mungkin [1].

 

3. Tidak memberikan makanan/minuman apapun selain ASI, kecuali dengan indikasi medis

Penelitian membuktikan bahwa pemberian makanan selain ASI memperpendek masa menyusui[1]. Faktor penyebabnya diperkirakan karena perubahan pola menyusui bayi hingga ibu yang menjadi kurang percaya diri [1]. Bayi yang diberi suplemen dari luar tentu akan merasa lebih kenyang, sehingga kebutuhannya terhadap ASI akan berkurang[3]. Hasilnya, produksi ASI juga berkurang!

 

4. Tidur bersama bayi

Masih ingat kapan hormon produksi ASI (prolaktin) banyak dihasilkan? Betul, malam hari [2][3]. Tidur bersama bayi mempermudah ibu untuk menyusui di malam hari [1]. Jika payudara dikosongkan saat produksi hormon prolaktin meningkat, maka produksi ASI akan semakin lancar [2]. Tidak hanya itu, tidur bersama bayi memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi [1].

 

5. Jangan berikan minuman dengan botol dot atau dot buatan

Loh? Mengapa tidak boleh menggunakan botol dot? Ingat, bayi kamu juga butuh belajar menyusui! Minum dari botol dot jauh lebih mudah bagi bayi dibandingkan dengan menyusui [4]. Jika bayimu terbiasa dengan dot, bayi akan kesulitan dan bahkan bingung dengan payudara ibunya sendiri [1]. Jadi, bayi jangan dikenalkan dengan dot, bahkan dot buatan sekalipun! Pada kasus ibu bekerja yang kadang memompa ASI, sebaiknya ASI yang dipompa diberikan dengan metode minum dengan gelas (cup feeding) [2][3].

 

6. Menyusui sesuai keinginan anak tanpa dibatasi

Jangan sesekali menetapkan durasi dan banyaknya frekuensi menyusui dalam 24 jam [1]. Berikan ASI kamu sesuai dengan keinginan bayi kamu (on demand). Menyusui bayi hingga mencapai lebih dari 10x per hari itu hal yang biasa kok! [1]

 

7. Berikan dukungan pada ibu menyusui

Inilah peran keluarga, suami, dan komunitas dalam membantu ibu menyusui! Walaupun ibu tidak kebingungan saat pulang pasca melahirkan, tidak dipungkiri masalah menyusui akan tetap timbul[1][5]. Keluarga dan suami sebaiknya memberikan dukungan agar ibu tetap memberikan ASI, bukan mencari jalan pintas memberi susu tambahan. Ibu dapat mencari solusi ke petugas kesehatan terdekat atau komunitas ibu-ibu menyusui yang sudah sukses ASI eksklusif[1].

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Pacifier use and interruption of exclusive breastfeeding: Systematic review and meta-analysis

  2. Primary Care Interventions to Support Breastfeeding: Updated Evidence Report and Systematic Review for the US Preventive Services Task Force

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.