Obesitas: Mungkin itu Ulah Mikrobiota dalam Perutmu

Halo sobat Zywie! Kali ini kita akan bahas mengenai obesitas dan mikroba dalam perut. Apa ya kira-kira hubungan antara keduanya?

 

ita mengenal jika obesitas dapat disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi kalori, tinggi lemak, dan rendah serat; serta aktivitas fisik yang rendah, dan gaya hidup lain yang tidak sehat. Sederhananya, obesitas muncul karena adanya timbunan lemak berlebih di dalam tubuh. Hal ini   terjadi karena energi yang kita dapatkan dari makanan tidak sebanding dengan metabolisme sel dan aktivitas yang dilakukan, sehingga tubuh menyimpan energi tersebut dalam bentuk lemak. Jika siklus ini berulang, maka akan semakin banyak lemak yang tertimbun dan kemudian menyebabkan obesitas [1].

 

Namun tau kah kalau mikrobiota, terutama jenis-jenis bakteri, di dalam perut kita memiliki pengaruh pada perkembangan penyakit obesitas? Kok bisa?

 

Terdapat sekitar 38 triliun sel bakteri yang ada di tubuh manusia dan sebagian besar tinggal dan tersebar di sepanjang saluran pencernaan [2]. Bakteri tersebut tergolong ke dalam lebih dari 1.000 spesies yang berbeda, dan sebagian besar (60-90%) adalah spesies-spesies yang berasal dari dua kelompok besar [division/phylum], yaitu Bacteroidetes dan Firmicutes [3].

 

Penelitian pada tikus dan beberapa riset pada manusia menunjukkan bahwa obesitas berhubungan dengan keberadan dan keberagaman mikrobiota perut [4]. Penelitian pada tikus dengan perut yang bebas dari mikroba menunjukkan bahwa tikus tersebut mengalami peningkatan jumlah lemak yang lebih besar saat dilakukan transplantasi mikrobiota dari perut tikus yang mengalami obesitas dibandingkan saat tikus ini mendapat transplantasi mikrobiota perut tikus berbadan kurus [5,6]. Selanjutnya, diketahui bahwa ternyata komposisi mikrobiota perut ini pun berbeda antara tikus normal dan obesitas. Tikus obese memiliki jumlah Firmicutes yang meningkat, namun tidak pada jumlah dan jenis Bacteroidetes yang justru menurun [7]. Beberapa penelitian pada manusia juga menunjukkan hasil yang sama [8,9]. 

 

Salah satu penyebab perubahan komposisi ini adalah peralihan pola makan. Saat ini, kita cenderung dengan mudah mendapatkan dan mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat. Penelitian menunjukkan bahwa pergantian dari makanan tinggi serat dan rendah lemak ke pola yang sebaliknya meningkatkan rasio Firmicutes/Bacteriodetes [4].

 

Mikrobiota di perut juga memiliki peran dalam proses penyerapan dan penyimpanan energi dari makanan [10]. Bakteri-bakteri perut dapat mencerna makanan yang masuk dan menghasilkan berbagai senyawa asam organik termasuk asam lemak rantai pendek seperti butirat, suksinat dan propionat [11, 12]. Asam lemak ini kemudian masuk ke dalam sel-sel usus sebagai pasokan energi tambahan. Selain itu, senyawa-senyawa ini menstimulasi perlambatan gerakan usus, mengakibatkan makanan yang telah dicerna semakin lama berada di usus, sehingga penyerapan gizi semakin bertambah. Penelitian menduga jenis dan ragam Firmicutes yang lebih banyak daripada Bacteriodetes meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek, sehingga kejadian di atas dialami pada orang yang mengalami obesitas [13].

 

Dari ulasan di atas, terlihat bahwa perubahan diet dan komposisi mikrobiota perut saling berinteraksi pada proses berkembangnya obesitas. Akan tetapi, obesitas adalah penyakit yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Penelitian yang mengeksplorasi hubungan mikrobiota perut dan obesitas masih belum bisa memberikan konfirmasi yang jelas. Contohnya, belum ada kepastian tentang rasio Firmicutes/Bacteriodetes pada orang kurus dan orang obese.

 

Jadi, penelitian tentang mikrobiota perut manusia masih terus berkembang. Hal yang pasti adalah perut kita dihuni oleh berbagai macam mikroba yang mempengaruhi kondisi kesehatan tubuh. Sampai saat dimana kita tahu betul bagaimana peran mikrobiota di perut terhadap obesitas, ada kemungkinan di masa depan kita dapat memanipulasi komposisi mikrobiota perut, konsumsi yoghurt, atau probiotik tertentu sebagai terapi yang tepat untuk penderita obesitas.

 

Daripada menunggu inovasi-inovasi tersebut terjadi, lebih baik kita tetap jaga pola hidup sehat ya sobat Zywie! 

 

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Effects of the gut microbiota on host adiposity are modulated by the short-chain fatty-acid binding G protein-coupled receptor, Gpr41

Tentang Penulis dan Penyunting

I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c)
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva saat ini merupakan salah satu mahasiswa magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam...
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.