Pewarna Makanan: Aman atau Tidak?

Kalau kita perhatikan, saat ini banyak sekali makanan dengan warna-warna yang sangat menarik, sebut saja rainbow cake dan aneka rainbow lainnya. Terlebih lagi di bulan puasa ini banyak pedagang yang menjual tajil atau makanan lain yang terlihat sangat menarik. Bahan dasar pembuatan berbagai makanan sebenarnya banyak yang aslinya sudah berwarna. Namun, untuk membuat makanan tersebut lebih menarik, sering kali para prrodusen menambahkan pewarna makanan.

 

Pewarna makanan adalah bahan tambahan pangan yang digunakan dengan tujuan untuk memperbaiki warna. Ada dua jenis pewarna makanan, yaitu alami dan sintetik. Pewarna alami berasal dari tanaman, hewan, mineral, atau sumber alami lain, termasuk pewarna identik alami (senyawa sintetik yang identik dengan yang ditemukan di alam). Contoh pewarna alami antara lain kurkumin dari kunyit, karotenoid dari wortel, merah bit dari buah bit, dan karmin dari serangga. Sementara itu, pewarna sintetik didapat dari sintesis kimiawi dan tidak dapat ditemukan di alam. Beberapa pewarna sintetik yang diizinkan oleh BPOM untuk digunakan dalam makanan, seperti tartrazine, sunset yellow, brilliant blue, erythrosine, dll [1,2].

 

Akan tetapi, saat ini banyak terjadi food adulteration (penambahan bahan lain yang tidak aman atau berpotensi memberi efek negatif bagi kesehatan pada makanan secara sengaja) dengan menggunakan pewarna yang tidak seharusnya dikonsumsi, yaitu pewarna tekstil. Beberapa contoh kasus antara lain penggunaan rhodamin B pada terasi [3] dan methanil yellow pada jajanan anak sekolah [4]. Karena pewarna tersebut tidak diperuntukkan bagi konsumsi, maka memakannya dapat menimbulkan efek berbahaya bagi tubuh. Rhodamin B diketahui bersifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker [5], sedangkan methanil yellow dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan [6].

 

Ciri-ciri makanan yang mengandung rhodamin B ialah: warna cerah mengkilap dan lebih mencolok, terkadang warna terlihat tidak homogen (rata), ada gumpalan warna pada produk, dan bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit [5]. Sedangkan, beberapa ciri makanan yang mengandung methanil yellow adalah berwarna kuning mencolok dan berpendar, serta seringkali terdapat titik-titik warna akibat pewarna tidak tercampur secara merata [6].

 

Jadilah konsumen yang cerdas dan lebih cermat dalam membeli makanan. Selalu perhatikan label makanan dan tampilan fisik makanan tersebut. Be healthy!

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Penguat Rasa

Tentang Penulis dan Penyunting

Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc. (c)
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.