Puasa: Bermanfaat atau Berisiko? (part 1)

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi warga muslim di seluruh Indonesia! Saat ini, masyarakat muslim berpuasa untuk memenuhi perintah agama, tetapi ternyata puasa juga dijalankan oleh umat lainnya, seperti Kristen, Yahudi, Budha, atau Hindu yang biasanya berpuasa di hari-hari tertentu. Bahkan berpuasa kini menjadi salah satu metode diet, contohnya intermittent fasting atau alternate day fasting­ [1]. Intermittent fasting dan alternate day fasting memiliki kemiripan yang sama dengan ritual puasa yang diperintahkan agama, yaitu terdapat periode puasa yang berlangsung sekitar ±16 jam dilanjutkan dengan periode makan.

 

Sebenarnya, apa yang terjadi ketika berpuasa?

Sumber utama energi kita, terutama untuk otak dan sel darah merah adalah glukosa [2]. Glukosa ini diperoleh dari pemecahan karbohidrat di makanan kita. Jumlah glukosa yang mencukupi harus tersedia agar otak kita dapat berfungsi dengan baik. Tubuh menjaga ketersediaan glukosa ini dengan menyimpannya dalam bentuk glikogen setiap kali kita makan [1-3]. Namun, saat berpuasa, secara otomatis suplai glukosa makanan akan terhenti. Disaat glukosa darah menurun ini, tubuh kita mulai memecah kembali cadangan glukosa yaitu  ‘glikogen’ menjadi glukosa [1-3]. Sayangnya, glukosa yang diperoleh dari proses ini hanya bisa mencukupi kebutuhan energi selama ±8-12 jam [2,3]. Tetapi, rata-rata manusia berpuasa melebihi batas waktu tersebut, bagaimana otak kita bisa bekerja setelahnya? Otak  akan memanfaatkan sumber energi lain yang diperoleh dari pemecahan lemak [1-3]. Namun puasa berkepanjangan juga dapat berbahaya bagi tubuh karena protein juga akan ikut dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi kita [2]. Padahal, protein merupakan pembentuk struktur hampir seluruh sel di tubuh kita. Pemecahan protein terus menerus bisa mengganggu fungsi tubuh, bahkan kematian [2].

 

Selain itu, penelitian menunjukkan sel tubuh memiliki respon berbeda selama berpuasa. Tubuh mengatur hormon agar lemak lebih mudah digunakan untuk sumber energi, contohnya dengan mengurangi produksi insulin, yaitu hormon yang meningkatkan pemecahan glukosa dan menghambat pemecahan lemak [1,4]. Namun, hormon ini sebenarnya juga dibutuhkan agar tubuh bisa mengambil segala sumber energi yang kita peroleh dari makanan, baik karbohidrat, protein, maupun lemak [2]. Tidak hanya insulin, jaringan lemak juga mengurangi produksi leptin yang berguna untuk menekan rasa lapar, sensasi yang justru kita rasakan saat berpuasa [2].

 

Ketiga, tubuh bisa dikatakan dalam kondisi ‘stress’ akibat kurangnya makanan yang masuk ke dalam tubuh, terbukti dengan meningkatnya hormon yang mengatasi stress, yaitu hormon kortikosteron [4,5]. Bukankah stress itu tidak baik? Memang stress dapat berdampak negatif. Namun, penelitian pada sel kultur menunjukkan bahwa disaat berpuasa sel tubuh menghadapi situasi kekurangan makanan sehingga memicu proses reparasi sel, membuang sel yang rusak dan  mengurangi reaksi oksidasi [1,5].

 

Jadi, bagaimana sebenarnya? Puasa itu bermanfaat atau berisiko? Baca bagian selanjutnya dari seri artikel ini, Puasa: Bermanfaat atau Berisiko? (part 2).

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki menyelesaikan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.