Puasa: Bermanfaat atau Berisiko? (part 2)

Pada artikel sebelumnya yang dapat kamu baca di link ini, kita mengetahui bahwa tubuh memiliki berbagai perubahan saat sedang berpuasa. Namun, kita mungkin masih bertanya-tanya, apakah manfaat puasa lebih besar dari risikonya?

 

Metode puasa yang dianjurkan agama, metode intermittent fasting, dan alternate day fasting rata-rata memiliki fase puasa selama 12-16 jam, walaupun ada juga yang mencapai 22 jam. Penelitian menunjukkan bahwa berpuasa dapat menurunkan berat badan. Hal ini disebabkan sumber energi lain, seperti lemak dan protein dimanfaatkan saat periode puasa [1-5]. Menariknya, puasa dalam jangka waktu tertentu tersebut mengurangi massa lemak lebih besar, sedangkan massa protein tidak mengalami penurunan yang signifikan [4-5]. Bahkan, salah satu massa tubuh yang berkurang adalah lemak di area perut (lemak visceral), yaitu lemak yang berkaitan dengan risiko gangguan metabolik, penyakit jantung, dan diabetes [1,3,5].

 

Oleh karena jaringan lemak merupakan jaringan yang memproduksi hormon, perubahan massa lemak juga berdampak pada perubahan hormon. Singkatnya, terdapat peningkatan hormon adiponektin serta berkurangnya leptin dan resistin [1,6]. Efek perubahan ini adalah meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi proses pembentukan plak di pembuluh darah, dan mengurangi reaksi oksidasi yang dapat merusak sel tubuh [1,5,6]. Walaupun leptin berfungsi menekan rasa lapar dan mengatur pola makan, hormon ini juga memiki efek pembentukan plak dan inflamasi sehingga jumlah yang berlebihan juga berdampak negatif [1].

 

Perubahan hormon lainnya adalah penurunan kadar insulin dan peningkatan hormon stress, yaitu kortikosteron. Saat berpuasa, kedua hormon ini sebenarnya bekerja saling mengimbangi sehingga hasilnya justru perlindungan sel tubuh. Insulin diturunkan untuk mencegah penurunan kadar glukosa darah ke level yang membahayakan dan kortikosteron membantu menyeimbangkan kadar glukosa [7]. Penelitian pada sel bahkan menunjukkan bahwa sel otak merespon kondisi stress ini dengan memperbaiki sel tubuh. Hal ini dapat melindungi sel dari proses penuaan dan berbagai penyakit kronis [6,8]. Artinya, respon stress saat berpuasa merupakan respon yang menguntungkan.

 

Kesimpulannya, puasa memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Berat badan berkurang tanpa mengurangi asupan kalori secara signifikan [1-5]
  2. Massa lemak berkurang tanpa mengurangi massa protein secara signifikan [4-5]
  3. Memperbaiki metabolisme lemak dan glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi proses pembentukan plak di pembuluh darah. Keseluruhannya dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan  diabetes [1,3,5,6]
  4. Mengurangi reaksi oksidasi, memperbaiki sel tubuh, dan menciptakan lingkungan yang protektif untuk sel tubuh [6,8].

 

Wah, ternyata banyak sekali manfaat berpuasa! Tetapi, apakah semua orang merasakan manfaat yang sama? Kenyataannya, manfaat puasa tersebut hanya bisa didapat jika kita menjalankan metode puasa yang baik. Bagaimana agar kamu bisa mendapatkan manfaat yang maksimal? Tunggu pembahasan selanjutnya ya!

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Does Ramadan Fasting Alter Body Weight and Blood Lipids and Fasting Blood Glucose in a Healthy Population? A Meta-analysis

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D. (c)
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki sekarang sedang menjalankan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.