Revolusi putih (susu): Antara "4 Sehat 5 Sempurna" vs "Gizi Seimbang"

Siapa yang tidak mengenal 4 sehat 5 sempurna? Slogan ini sangat populer pada generasi 90-an dan masih saja menjadi pedoman makan bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Saat ini 4 sehat 5 sempurna tidak berlaku lagi dan telah diganti sesuai prinsip "Nutrition Guide for Balanced Diet" hasil kesepakatan konferensi pangan sedunia di Roma Tahun 1992. Di Indonesia kemudian dikenal dengan istilah gizi seimbang [1].
 
Namun, beberapa hari terakhir kamu pasti mendengar atau membaca mengenai “revolusi putih” yaitu pemberian susu gratis bagi anak sekolah. Dalam 4 sehat 5 sempurna, susu diyakini penyempurna kesehatan kita. Apakah hal tersebut benar? dan Apa kaitan pemberian susu, 4 sehat 5 sempurna dan pedoman gizi seimbang? Mari simak penjelasan berikut!
 
Pedoman Gizi Seimbang (PGS) hadir menyempurnakan pedoman hidup sehat masyarakat Indonesia yang berdasar pada perkembangan IPTEK dan masalah kesehatan yang dihadapi saat ini yaitu beban ganda masalah gizi [1]. Mengapa harus menerapkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) dan tidak lagi 4 sehat 5 sempurna dalam kehidupan sehari-hari, berikut alasannya:
 

  1. Pesan 4 sehat tidak sesuai konteks kekinian. 4 sehat adalah makan 1) makanan pokok; 2) lauk pauk; 3) sayur; dan 4) buah. Pesan yang diberikan memiliki arti bahwa jika kamu ingin sehat maka makan 4 hal yang dimaksud, padahal perubahan gaya hidup menyebabkan meningkatnya penyakit tidak menular serta obesitas. Jika konteks ini (4 sehat) masih digunakan, maka tidak dapat menyelesaikan masalah kesehatan saat ini. Semantara itu, Pedoman Gizi Seimbang (PGS) memiliki pesan yang beragam dengan 4 pilar gizi seimbang yaitu; 1) Makan beragam dan sesuai porsi, 2) Menjaga kebersihan, 3) Melakukan Aktifitas fisilk dan 4) Memantau berat badan. Melalui prinsip ini diyakini memberikan jalan keluar masalah kesehatan yang ada di Indonesia [1].
  2. 4 sehat 5 sempurna tidak menggambarkan jumlah (porsi) makan. Walaupun makan beragam terkandung dalam pesan 4 sehat, tetapi panduan seberapa banyak yang kamu makan tidak ada. Berbeda dengan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang memberikan pesan bahwa konsumsi makanan harus beragam dan seimbang, yang artinya konsumsi makan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur [1]. Meningkatnya kejadian obesitas di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah asupan makanan yang lebih besar dari kebutuhan [2]. Sehingga melalui Pedoman Gizi Seimbang (PGS) masyarakat dapat lebih paham jenis dan jumlah makanan yang sebaiknya dikonsumsi agar mencapai status gizi yang optimal (normal).
  3. Susu bukan hal yang sempurna. Susu memang memiliki kandungan gizi yang baik, tetapi susu bukan hal yang sempurna. Anggapan bahwa tanpa minum susu maka kurang lengkap untuk kesehatan sehingga kita mudah sakit adalah hal yang salah. Dengan konsumsi lauk protein hewani, seperti ikan dan daging makan sudah mencukupi kebutuhan gizi seperti susu. Dengan kata lain kandungan gizi susu sama dengan kandungan gizi lauk hewani seperti ikan [1]. Pemberian susu secara gratis memang baik, tetapi kurang tepat untuk masyarakat Indonesia dan perlu kajian dengan tepat. Kamu perlu tahu bahwa pemberian susu dalam bentuk susu perah dan atau susu bubuk perlu diperhatikan kebersihan atau sterilisasi pada saat penyajiannya, sedangkan pemberian susu dalam bentuk “produk/kemasan” perlu memperhatikan kandungan lainnya, seperti gula. Kelebihan konsumsi gula berisiko kelebihan berat badan dan diabetes.
  4. Minum air mineral (putih) merupakan pesan penting dalam PGS. 4 sehat 5 sempurna tidak mengandung pesan minum air putih, sedangkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) menganjurkan untuk konsumsi air putih yang cukup dan aman [1]. Konsumsi air putih sesuai dengan kebutuhan atau minimal 8 gelas / 2 liter dalam sehari.

Selain alasan-alasan tersebut, PGS memiliki pesan yang lebih lengkap seperti variasikan bahan makanan, lakukan sarapan pagi, batasi konsumsi gula, garam dan lemak, serta selalu mensyukuri makanan yang kita konsumsi. Mari terapkan pedoman gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Muh. Nur Hasan Syah S.Gz., M.Kes.
UNHAS, Gizi Masyarakat dan Kebijakan Gizi, Dosen, Peneliti
Muh. Nur Hasan Syah yang memiliki nama panggilan Anca merupakan dosen dan peneliti di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia. Sebelumnya di Tahun 2010 dia telah menamatkan program sarjana dan masternya dengan latar belakang keilmuan pada bidang gizi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Anca mengkhususkan fokus studinya pada gizi masyarakat dan kebijakan gizi.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.