Senyawa Fitokimia dalam Makanan

fitonutrien merupakan metabolit sekunder dari tanaman penghasilnya
Photo by Brooke Cagle on Unsplash

Kata "fitokimia" berasal dari kata "phyto" dalam Bahasa Yunani yang artinya tanaman atau tumbuhan dan kata "kimia". Jadi, fitokimia adalah ilmu kimia yang membahas senyawa-senyawa yang khusus berasal dari tanaman. Pada dasarnya, senyawa fitokimia merupakan metabolit sekunder dari tanaman penghasilnya. Maksudnya metabolit sekunder adalah, senyawa-senyawa fitokimia ini bukanlah senyawa yang esensial bagi pertumbuhan tanaman.

 

Pestisida cenderung mengurangi kadar senyawa fitokimia

Umumnya metabolit sekunder tanaman alias senyawa fitokimia dihasilkan tanaman sebagai bentuk pertahanan alami dirinya dari kondisi lingkungan yang kurang nyaman, seperti adanya hama atau kuman penyakit. Oleh karena itu, ada benarnya anggapan bahwa pemberian pestisida cenderung menurunkan produksi senyawa fitokimia yang dihasilkan tanaman [1].

 

Fitonutrien bukan zat gizi

Ada ribuan senyawa fitokimia yang sudah diidentifikasi para ilmuwan. Senyawa fitokimia juga dikenal dengan istilah fitonutrien karena seperti zat gizi, kita bisa mendapatkannya dari makanan. Seperti pada tanaman penghasilnya, bagi tubuh manusia, fitonutrien alias senyawa fitokimia juga bukan hal yang esensial. Walaupun ada embel-embel “nutrien” di namanya, fitonutrien tidak dikategorikan sebagai zat gizi. Akan tetapi, senyawa fitokimia bersifat bioaktif alias dapat memberikan efek biologi. Khasiat yang ditawarkan oleh obat herbal pun, bergantung pada jenis dan kadar senyawa fitokimia tanaman yang menjadi bahan bakunya.

 

Lima macam senyawa fitokimia

Berdasarkan struktur kimianya, fitonutrien atau senyawa fitokimia yang terdapat dalam makanan bisa dibagi menjadi lima macam [2]. Tiap macam senyawa fitokimia ini bisa dikelompokkan lagi menjadi beberapa jenis dan efek biologinya bisa berbeda antara satu senyawa dengan yang lainnya. Kali ini, Zywielab akan membahas singkat tentang kelima jenis utama senyawa fitokimia tersebut.

 

Alkaloid

Teobromin, suatu contoh senyawa alkaloid

Teobromin, suatu contoh senyawa alkaloid

 

Apa itu alkaloid? Salah satu ciri alkaloid adalah keberadaan unsur nitrogen heterosiklik pada struktur kimianya. Namun selain ciri ini, banyak variasi yang terdapat antar senyawa alkaloid. Efek biologis dari alkaloid pun beragam, ada yang berkhasiat untuk pemeliharaan kesehatan dan ada pula yang beracun. Dibandingkan jenis senyawa fitokimia lainnya, jenis alkaloid pada tanaman yang biasa dijadikan bahan pangan tidak terlalu banyak.

 

Kafein termasuk salah satu contoh senyawa alkaloid. Tidak hanya di kopi, kafein juga terdapat pada beberapa makanan (ataupun minuman) lain, seperti teh dan cokelat. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, efek penting yang bisa ditimbulkan kafein adalah peningkatan denyut jantung, dengan cara memblok reseptor tertentu di sel otot jantung dan mempengaruhi sistem saraf. Dengan demikian kafein membantu mencegah timbulnya rasa kantuk [3].

 

Contoh lain alkaloid adalah teobromin, yang banyak terdapat pada cokelat dan juga bisa terbentuk dalam tubuh kita sebagai hasil metabolisme dari kafein [4]. Beberapa khasiat teobromin yang sudah diteliti di antaranya ialah menghambat pertumbuhan kristal asam urat [5] serta berpotensi meningkatkan kadar HDL dalam darah [6].

 

Polifenol

Asam klorogenat, suatu contoh senyawa polifenol

Asam klorogenat, suatu contoh senyawa polifenol

 

Kalau polifenol itu apa? Senyawa fenolik atau polifenol ditandai dengan adanya struktur fenol, di mana gugus hidroksil (-OH) terikat langsung pada struktur hidrokarbon aromatik. Jenis senyawa fitokimia yang satu ini merupakan yang paling banyak anggotanya dibandingkan senyawa fitokimia jenis lainnya. Selain itu, senyawa polifenol memang terdapat di hampir semua tanaman [7].

 

Salah satu sub-kelompok dari senyawa polifenol adalah flavonoid, yang sudah pernah dibahas sebelumnya oleh Zywielab di sini. Dibandingkan jenis senyawa fitokimia lainnya, flavonoid termasuk yang paling banyak diteliti [8]. Flavonoid bisa ditemukan dalam berbagai macam tanaman bahan pangan, mulai dari buah, sayur, bumbu masakan, juga minuman seperti teh dan kopi. Selain memberi warna menarik pada berbagai bagian tanaman, efek yang bisa diberikan senyawa jenis flavonoid pada tubuh sangat beragam dan yang paling terkenal adalah potensinya sebagai antioksidan [9].

 

Terpenoid

Lutein, suatu contoh senyawa terpenoid

Lutein, suatu contoh senyawa terpenoid

 

Terpenoid adalah senyawa fitokimia yang dibangun dari struktur isopren (Isoprene). Tetraterpenoid, jenis terpenoid yang mengandung delapan unit isopren, termasuk senyawa fitokomia yang bisa kita dapat dari makanan. Contohnya adalah senyawa-senyawa karotenoid yang berkhasiat memelihara kesehatan mata. Tidak hanya di wortel, beberapa sayuran lain juga bisa menjadi sumber asupan karotenoid, lho. Kangkung, misalnya. Sayuran khas Asia Tenggara ini punya kadar karotenoid yang terbilang tinggi [10], baik yang berupa pro-vitamin A alias β-karoten maupun yang bukan, seperti lutein dan zeaxanthin. Kedua senyawa ini turut berperan dalam memelihara kesehatan mata maupun kulit [11]. Riset juga menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi lutein dan zeaxanthin dengan penurunan resiko penyakit katarak [12].

 

Fitosterol

β-sitosterol, suatu contoh senyawa fitosterol

β-sitosterol, suatu contoh senyawa fitosterol

 

Fitosterol adalah kelompok senyawa turunan steroid yang berasal dari tanaman dan punya kemiripan struktur dengan kolesterol [13]. Pada makanan, fitosterol bisa berasal dari kacang-kacangan, serealia, minyak nabati dan biji wijen. Senyawa yang bersifat antikanker [14] ini bisa menghambat pertumbuhan tumor secara langsung. Tingkat asupan fitosterol dari makanan pun sebanding dengan penurunan resiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker prostat, kanker kolon, dan kanker payudara [14]. Sebagian jenis fitosterol pada kadar tertentu juga dapat menurunkan kolesterol darah [13].

 

Senyawa organosulfur

Alisin, suatu contoh senyawa organosulfur

Alisin, suatu contoh senyawa organosulfur

 

Senyawa organosulfur atau senyawa organik yang mengandung unsur sulfur adalah senyawa fitokimia yang banyak terdapat pada bawang-bawangan. Senyawa organosulfur diketahui memiliki banyak efek biologi seperti sifat antioksidan, antikanker, anti agregasi platelet, antimikroba, neuroprotektif, dan hepatoprotektif [15]. Bawang putih termasuk penghasil senyawa organosulfur yang banyak diteliti. Salah satu senyawa organosulfur pada bawang putih adalah alisin (allicin) yang bersifat mudah menguap dan terkandung pada komponen minyak bawang. Alisin dapat memberikan beberapa khasiat kesehatan, seperti menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol serta bersifat antimikroba [16].

 

Nah, itu dia penjelasan singkat tentang macam-macam fitonutrien. Sobat Zywie sudah paham kan, banyak senyawa fitokimia yang berguna bagi kesehatan. Tidak ada rekomendasi khusus tentang batas asupan fitonutrien karena seperti yang sudah dibilang, senyawa fitokimia tidak dikategorikan sebagai zat gizi. Kurang asupan fitonutrien saja tidak mengganggu kesehatan. Tapi ingat, makanan yang mengandung fitonutrien itu merupakan makanan yang juga kaya serat dan mikronutrien. Jadi kalau asupan fitonutrienmu rendah, kemungkinan besar asupan serat, vitamin, dan mineralmu juga rendah. Telah terbukti juga hubungan positif antara tingkat konsumsi sayur dan buah dengan kadar asupan fitonutrien [17]. Makanya, sobat Zywie harus makin sering makan sayur dan buah ya setelah mengenal tentang fitonutrien. :)

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

ayunina's picture
Ayunina R. F., Apt., M.Sc.
ITB, Farmasi, Ghent University, Nutrition and Rural Development
Semenjak menempuh pendidikan di Sekolah Farmasi ITB, Ayunina tertarik dengan peran makanan dan gaya hidup dalam penyembuhan dan kesehatan. Hal ini pun mengantarkannya untuk menempuh pendidikan magister di jurusan Nutrition and Rural Development di Ghent University dengan beasiswa dari pemerintah wilayah Flanders, Belgia. Setelah memperoleh gelar masternya di tahun 2016, Ayunina kini mengelola...
keni's picture
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.