Serat (Dietary Fiber)

Serat (Dietary Fiber)
The U.S. Food and Drug Administration

Buat kamu yang ingin menjaga nafsu makan dan meningkatkan kesehatan, kamu wajib mengenal lebih jauh mengenai dietary fiber atau yang biasa dikenal dengan serat melalui artikel ini!

 

Pada artikel Karbohidrat, telah dijelaskan mengenai pembagian karbohidrat berdasarkan ukuran molekulnya yaitu mono-, di-, oligo- dan polisakardia. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai dietary fiber. Dietary fiber atau serat merupakan polisakarida yang tidak dapat dicerna dan diserap oleh usus halus manusia. Mengapa? Hal ini dikarenakan pada usus halus tidak tersedia enzim yang dapat memecah serat menjadi molekul yang lebih sederhana dan siap untuk diserap tubuh. Meskipun tidak dapat dicerna dan diserap di dalam usus halus, serat masih bisa diproses oleh tubuh manusia di dalam usus besar (kolon). Makanan yang mengandung gandum utuh, buah dan sayuran segar, serta kacang-kacangan merupakan sumber serat yang baik. (1)

 

Fiber dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Soluble fiber atau serat yang larut dalam air. Umumnya serat jenis ini merupakan pectin, beta glucan dan oligosakarida yang berasal dari kacang-kacangan, apel dan blueberry (2).

 

Soluble fiber berpotensi menurunkan risiko diabetes tipe 2 dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Mengapa bisa demikian? Penurunan risiko diabetes tipe 2 disebabkan oleh kandungan serat yang berpotensi menciptakan lapisan pada usus halus sehingga berpengaruh terhadap penyerapan glukosa. Hal ini berpotensi mencegah peningkatan kadar glukosa dalam darah. Sedangkan penurunan kadar kolesterol dalam tubuh dapat disebabkan oleh terbentuknya ikatan antara asam empedu dengan serat. Manusia pada umumnya menggunakan kembali asam empedu yang dihasilkan untuk membantu proses pencernaan lemak. Jika asam empedu ini terikat oleh serat maka tubuh tidak dapat menggunakan asam empedu ini kembali. Hal ini menyebabkan tubuh manusia harus memproduksi asam empedu dari sumber kolesterol tubuh. Oleh karena itu, mengkonsumsi serat dapat menurunkan kadar kolesterol. (1)

 

Soluble fiber juga bersifat mudah difermentasi oleh bakteri yang terdapat di dalam kolon. Terdapat sekitar satu triliun sel bakteri yang mampu mengubah serat menjadi asam lemak rantai pendek seperti asam propionat dan asam butirat. Asam lemak ini menciptakan lingkungan yang asam sehingga menyebabkan penurunan jumlah bakteri jahat pada kolon. (1)

 

  • Insoluble fiber atau serat yang tidak larut dalam air umumnya merupakan selulosa yang berasal dari gandum, beras merah, wortel, mentimun dan tomat (3). Insoluble fiber berpotensi membantu pergerakan makanan pada sistem pencernaan agar tetap lancar dan membantu mencegah konstipasi. (1)

 

Salah satu penelitian Linda Ekstrom (2012) di Lund University, Swedia, menyatakan bahwa mengkonsumsi serat berpotensi menurunkan rasa lapar karena serat mampu memperlambat waktu pengosongan lambung. (3). Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi yang ingin menahan nafsu makan.

 

Lapar? Yuk konsumsi makanan yang mengandung serat!  

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina menyelesaikan studi magister di Lund University, Swedia tahun 2016 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.