Sianida: Mematikan atau Bermanfaat?

Halo sobat Zywielab, sebulan terakhir ini Jakarta digemparkan oleh berita dugaan pembunuhan berencana dengan menggunakan sianida di dalam Es Kopi Vietnam. Sepanjang sejarah manusia, sianida memang lebih dikenal sebagai racun yang sangat berbahaya dan mematikan. Penggunaan sianida sebagai senjata pembunuh banyak ditemui di dalam kisah-kisah fiktif Agatha Christie maupun pembunuhan massal di dalam kamar gas semasa Perang Dunia II. Tapi apa sih sebenarnya sianida itu? Apakah memang selalu berbahaya untuk kesehatan?

 

Sianida (dan senyawa turunannya) dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita, seperti asap knalpot kendaraan bermotor dan rokok. Sebagai tambahan, rokok tanpa filter menghasilkan senyawa hidrogen sianida sekitar lima kali lebih banyak dibandingkan rokok berfilter. Selain itu, senyawa ini juga terdapat secara alami di dalam beberapa jenis makanan pokok dan buah-buahan yang biasa kita konsumsi, seperti singkong, ubi, jagung, ceri, aprikot, dan persik [1].

 

Singkong merupakan makanan pokok yang sering dikonsumsi di Indonesia. Dalam setiap kilogramnya, kandungan sianida di dalam singkong dapat bervariasi, tergantung dari jenisnya. Secara umum, terdapat 2 jenis singkong di Indonesia, antara lain singkong manis dan singkong pahit. Singkong manis memiliki kandungan sianida yang lebih rendah (50-100 mg/kg singkong) dibandingkan singkong pahit (>100 mg/kg singkong) [2]. Hah? Kalau begitu, bahayakah mengkonsumsi singkong?! Tidak perlu khawatir, kadar sianida di dalam singkong yang telah dikeringkan, direndam, direbus, dipanggang atau difermentasi bisa berkurang 80-95% [3].

 

Tubuh manusia dapat menoleransi konsumsi sianida setiap harinya dalam kadar 20 μg sianida/kg berat badan (Tolerable Daily Intake) [4]. Untuk dapat menyebabkan kematian langsung, diperlukan sianida dalam konsentrasi minimal 0.5-3.5 mg/kg berat badan atau setara dengan 35-245 mg untuk orang dengan berat 75 kg [5].

 

Sebenarnya, sianida tidak selamanya merugikan. Sianida dalam berbagai bentuk dapat dimanfaatkan di berbagai bidang, diantaranya untuk memberantas hama tanaman (kalsium sianida dan sianogen), bakterisida (potasium silver sianida), bleaching, toning, fixing dalam fotografi (natrium ferosianida), anti-hipertensif (natrium nitroprusida), dan masih banyak lagi [1]. Di dunia pangan, sianida dalam bentuk tidak berbahaya ferrocyanides (Sodium ferrocyanide E535, Potassium ferrocyanide E536 dan Calcium ferrocyanide E538) sering digunakan sebagai anti-caking agent di dalam produksi garam dapur [6,7]. Sianida (KCN) pun digunakan sebagai stabilizer oleh perusahaan farmasi untuk memproduksi vitamin B12 (cyanocobalamin), karena bentuk alami vitamin B12 sensitif terhadap cahaya [8].

 

Karena salah satu bentuk alami vitamin B12 (hydroxocobalamin) memiliki kemampuan untuk mengikat dan mendetoksifikasi racun sianida, hydroxocobalamin bisa disuntikkan secepatnya ke dalam pembuluh darah sebagai anti-racun di dalam kasus keracunan sianida [9].

 

Jadi, sudah lebih jelas kan mengenai sianida? Di balik berbagai manfaatnya di dalam industri, kita tetap harus berhati-hati apabila bekerja dengan sianida.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

arien's picture
Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.
tessa's picture
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...