Sudah benarkah caramu menilai berat badan?

Apakah cukup menilai berat badan hanya dengan menimbang berat badan secara rutin? Apakah dengan begitu kamu sudah yakin bahwa berat badan yang kamu miliki tidak memiliki risiko terhadap kesehatan? Sudah pahamkah kamu dengan konsep berat badan yang sehat? Kalau belum, kamu bisa membaca terlebih dahulu artikelnya di link ini.

 

Dalam menilai berat badan, komposisi dari berat badan kita lebih berpengaruh dalam menilai risiko kesehatan dibandingkan hanya menilai berat badan [1]. Apa saja sih komposisi tubuh kita? Mudahnya, kamu bisa membaginya dengan massa lemak dan massa bebas lemak. Massa lemak meliputi seluruh komponen lemak yang terdapat pada jaringan tubuh kita, sedangkan massa bebas lemak ini terdiri atas tulang, otot, maupun cairan. Dari kedua komponen tersebut, massa lemak pada tubuh kitalah yang memiliki dampak terhadap kesehatan [2].

 

Bagaimana kita mengetahui massa lemak tubuh kita? Saat ini, banyak alat yang dapat digunakan untuk mengetahui komposisi berat badan tubuh kita. Sayangnya, sebagian besar metode tersebut tidak praktis untuk kegiatan sehari-hari [3]. Jadi, bagaimana? Ada dua metode sederhana yang bisa kamu lakukan, yaitu dengan menilai:

  • Indeks Massa Tubuh (IMT). Perhitungan ini adalah cara paling sederhana dan cukup akurat dalam memprediksi komposisi tubuh kita. IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter [4]. Hasil yang diperoleh memberikan gambaran total lemak di tubuh kita [3]. Namun, penilaian IMT secara khusus dibutuhkan pada orang-orang yang memiliki massa otot yang lebih besar, contohnya atlet [4].
  • Lingkar pinggang. Pengukuran ini memberikan gambaran distribusi lemak pada wilayah perut. Studi telah menunjukkan bahwa timbunan lemak di area perut memiliki risiko lebih besar terhadap kesehatan [5]. Kombinasi pengukuran lingkar pinggang dengan IMT ini berguna terutama pada orang-orang yang memiliki IMT normal atau overweight [5].

 

Namun, ternyata nilai yang digunakan untuk setiap populasinya berbeda-beda loh. Bagi orang Asia, termasuk Indonesia, nilai ambang yang ditentukan lebih rendah dibandingkan orang Eropa atau Amerika [6]. Studi epidemiologi menunjukkan komposisi lemak tubuh orang Asia lebih tinggi pada IMT dan lingkar pinggang yang lebih rendah untuk populasi dengan usia dan jenis kelamin yang sama [5,6]. Selain itu, risiko berbagai macam penyakit seperti diabetes atau penyakit kardiovaskular sudah banyak ditemukan pada kelompok orang dengan IMT lebih rendah pada populasi Asia [6]. Itulah mengapa nilai yang digunakan untuk orang Indonesia lebih rendah, jadi gunakan nilai ambang untuk orang Indonesia ya! Kamu bisa perhatikan tabel di bawah ini untuk mengetahui nilai IMT dan lingkar pinggang untuk orang Indonesia, serta hubungan IMT dan lingkar pinggang terhadap risiko kesehatan.

 

Tabel 1. Hubungan IMT dan Lingkar pinggang dengan Risiko Kesehatan [4,5]

IMT

Risiko Kesehatan*

Lingkar pinggang:

Laki-Laki <90 cm

Perempuan <80 cm

Lingkar pinggang:

Laki-Laki >90 cm

Perempuan >80 cm

Underweight (<18,5 kg/m2)

Tidak ada, tapi mungkin menimbulkan

masalah kesehatan lain

Normal (18,5 - 22,9 kg/m2)

-

Meningkat

Overweight (23 -24,9 kg/m2)

Meningkat

Risiko Tinggi

Obesitas

  • Kelas I (25-29,9 kg/m2)
  • Kelas II (≥30 kg/m2)

 

Risiko Tinggi

Risiko Sangat Tinggi

 

Risiko Sangat Tinggi

Risiko Sangat Tinggi

*risiko yang dinilai berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi, dan diabetes

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.