Tips Berpuasa bagi Penderita Diabetes

Seperti yang telah dibahas di artikel sebelumnya, penderita diabetes memiliki risiko saat menjalankan puasa. Kendati demikian, sebagian penderita diabetes tetap dapat menjalankan puasa dengan aman. Hanya saja, mereka perlu dibekali persiapan dan ilmu yang cukup untuk menjalankan puasa dengan aman. Apa saja yang harus dilakukan?

 

Persiapan Sebelum Menjalankan Puasa

Persiapan puasa dilakukan setidak 2-3 bulan sebelum menjalankan puasa, meliputi:

  • Pemeriksaan kesehatan

Hal ini ditujukan untuk mengidentifikasi risiko penderita diabetes untuk menjalankan puasa. Hal ini dilakukan dengan berbagai pemeriksaan fisik maupun laboratorium, terutama kadar gula darah, disertai pemeriksaan tekanan darah, fungsi jantung, ginjal, mata, sistem saraf, dan profil lipid (lemak) [1,2].

  • Konsultasi/Konseling kesehatan

Hal ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan penderita diabetes tentang hal-hal yang mungkin terjadi selama berpuasa. Sesi konseling ini sebaiknya dilakukan per orang dan mengikutsertakan keluarga penderita diabetes [2]. Beberapa hal yang perlu diketahui, yaitu:

o   Mengetahui tanda-tanda awal terjadinya komplikasi: hipoglikemia (lemas, pusing, keringat dingin, gemetar) dan hiperglikemia (lemas, sering buang air kecil, haus, pandangan kabur, pusing) [1,2].

o   Karena orang awam kurang dapat membedakan gejala awal komplikasi, sebaiknya pasien diabetes atau keluarganya mampu mengecek kadar gula darahnya sendiri saat berpuasa di rumah, terutama bagi penderita yang menggunakan suntik insulin.

o   Mengetahui pola makan dan aktivitas fisik yang benar [1,2].

o   Bagi penderita diabetes yang menggunakan obat-obatan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan atau perubahan dosis obat jika diperlukan untuk tetap berpuasa secara aman [2,3].

 

Pola Makan yang Dianjurkan [1,2]

  • Makan sahur sedekat mungkin dengan batas waktu yang diizinkan untuk makan, sedangkan makan berbuka sesegera mungkin pada awal waktu berbuka
  • Membatasi makanan atau minuman yang manis, termasuk saat berbuka
  • Membatasi makanan yang kaya lemak atau gorengan.
  • Mengonsumsi buah, sayuran segar atau salad (tanpa saus tambahan)
  • Memilih makanan yang dipanggang, dikukus, atau direbus dibandingkan dengan makanan yang digoreng
  • Memperbanyak konsumsi air minum
  • Hindari makan berlebihan

 

Aktivitas Fisik yang Dianjurkan

  • Aktivitas fisik dianjurkan untuk penderita diabetes selama puasa, terutama pada masa setelah berbuka [1–3].
  • Aktivitas ringan-sedang seperti berjalan kaki tergolong cukup aman dan bermanfaat. Aktivitas dapat dilakukan dengan berjalan kaki saat ke masjid pada saat ibadah malam (sholat tarawih) [2].
  • Hindari aktivitas berat atau berlebihan karena akan meningkatkan risiko hipoglikemia [1–3].

 

Setelah mempelajari cara aman berpuasa, terdapat catatan kecil yang perlu kamu pahami. Pembahasan di atas hanyalah panduan umum bagi penderita diabetes dalam berpuasa. Setiap penderita diabetes tentunya berbeda-beda, sehingga untuk mengetahui persiapan, pola makan, dan aktivitas fisik secara detail lebih baik dilakukan konsultasi secara perorangan. Pesan terakhir adalah ilmu perubahan gaya hidup yang kamu dapatkan alangkah baiknya tetap dilakukan seterusnya di luar bulan puasa demi kesehatan. Salam sehat!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

cindy's picture
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
keni's picture
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...