Tips menyiapkan susu formula (infant formula)

Idealnya, Air Susu Ibu (ASI) diberikan mulai dari bayi baru lahir hingga usia dua tahun [1]. Namun, apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan, misalnya karena Ibu tidak dapat memproduksi ASI atau karena indikasi medis lainnya, maka pemberian susu formula dapat menjadi pilihan. Ada beberapa jenis susu formula yang dapat ditemukan di pasaran, antara lain susu formula siap konsumsi (cair), cairan konsentrat, dan bubuk. Susu formula bubuk merupakan jenis yang dapat dikatakan tidak steril atau mungkin ditemukan kontaminan, baik mikro- maupun makro-organisme [2]. Salah satu jenis bakteri dalam produk susu formula yang sudah tidak asing lagi kamu dengar adalah Enterobacter sakazakii (Cronobacter spp.).

 

Nah, untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan oleh bakteri tersebut, World Health Organization (WHO) membuat panduan untuk menyiapkan susu formula. Berikut ini adalah langkah-langkahnya [3]:

  1. Bersihkan permukaan yang akan menjadi tempat untuk menyiapkan susu formula

  2. Cuci tangan dan keringkan

  3. Rebus air hingga mendidih, diamkan sejenak untuk menurunkan suhu. Jangan gunakan air yang terlalu panas karena dapat menyebabkan rusaknya nutrisi yang terkandung dalam susu formula dan dapat meningkatkan risiko melepuh pada bayi yang meminumnya. Jangan pula menggunakan air dengan suhu kurang dari 70 °C karena tidak dapat membunuh bakteri (diamkan air mendidih tidak lebih dari 30 menit untuk menurunkan suhu)

  4. Tambahkan susu formula sesuai takaran dari kemasan, aduk hingga tercampur sempurna

  5. Dinginkan botol dengan segera, bisa dengan cara mengalirkan air dingin atau meletakkannya di kulkas tanpa mengontaminasi botol tersebut

  6. Keringkan botol

  7. Cek suhu susu formula tersebut dengan meneteskannya di pergelangan tangan. Suhu yang ideal adalah sekitar 37 °C atau biasa kita kenal dengan istilah ‘hangat-hangat kuku’. Apabila masih terlalu panas, tunggu beberapa saat lagi

  8. Berikan pada bayi

  9. Buang susu yang masih tersisa atau tidak diminum dalam jangka waktu 2 jam

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc. (c)
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.