Vitamin K untuk Bayi

Dalam pembahasan mengenai vitamin K, kamu mengetahui bahwa bayi merupakan salah satu yang berisiko mengalami kekurangan vitamin K. Kekurangan vitamin K pada bayi dapat menyebabkan perdarahan yang dikenal sebagai Perdarahan akibat Defisiensi Vitamin K (PDVK) [1,2]. PDVK dapat terjadi pada minggu pertama sejak lahir (PDVK awal) atau setelah usia 1 minggu - 6 bulan (PDVK lanjut) [3]. Mengapa PDVK perlu menjadi fokus perhatian kamu? Perdarahan otak adalah hal tersering yang terjadi akibat PDVK, jumlahnya mencapai 60% kasus PDVK [1].

 

Bagaimana mencegahnya? Kementrian Kesehatan merekomedasikan bahwa semua bayi baru lahir mendapatkan suntikan vitamin K1 [1]. Di Asia, angka kejadian PDVK berkisar antara 1:1200 hingga 1:1400 kelahiran hidup. Sejak dilakukan pemberian suntikan vitamin K1, angka tersebut dapat turun hingga 1:10.000 kelahiran hidup [1]. Selain melalui suntikan, saat ini sudah terdapat sediaan tablet vitamin K1 yang juga ditujukan untuk pencegahan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan efikasi, keamanan, serta formulasi dosis yang optimal [1,2].

 

Apakah cukup dengan suntikan vitamin K1? Suntikan vitamin K1 dapat melindungi bayi dari kekurangan vitamin K selama beberapa bulan [3]. Dosis yang diberikan adalah 0,5 - 1 mg dosis tunggal yang diberikan melalui penyuntikan ke dalam otot (intramuskular) [2]. Selama ini, tidak ada efek samping yang ditemukan akibat penyuntikan vitamin K1 ini [2,3].

 

Mengapa harus mendapatkan tambahan vitamin K dari luar? Bayi tidak dapat memenuhi kebutuhan vitamin K karena beberapa alasan. Vitamin K hampir tidak terdeteksi di plasenta walaupun ibu meningkatkan konsumsi vitamin K selama hamil [4]. Oleh karena itu, cadangan vitamin K bayi baru lahir juga sangat rendah. Selain itu, bayi juga kurang memiliki kemampuan untuk membentuk vitamin K sendiri [1,4].

 

Bagaimana dengan air susu ibu (ASI)? Kebutuhan vitamin K untuk bayi baru lahir berkisar antara 2 - 2,5 µg,  sedangkan rata-rata kandungan vitamin K pada ASI hanya berkisar 1 - 4 µg/L, dengan rata-rata kandungan vitamin K mendekati batas bawah [4]. Produksi ASI sendiri rata-rata hanya mencapai 750 ml/hari dan angka ini baru dicapai pada bulan-3 masa menyusui. Produksi ASI pada dua hari pertama tergolong sangat sedikit dan meningkat cepat mencapai 500 ml/hari pada hari-5 [5]. Hal ini berarti pemberian ASI eksklusif saja tanpa suplementasi tambahan memiliki risiko kekurangan vitamin K [1,4].

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Joint Statement and recommendations on Vitamin K administration to newborn infants to prevent vitamin K deficiency bleeding in infancy

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.