Yuk Cegah Resistensi Antibiotik

Penicilin poster
See page for author [Public domain], via Wikimedia Commons

Ancaman bakteri resisten antibiotik mengakibatkan badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan tanggal 14 hingga 20 November sebagai minggu peduli antibiotik sedunia sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap penggunaan antibiotik. Saat ini sekitar 700.000 orang meninggal akibat resistensi antimikroba (AMR)*. Jika tindakan pencegahan tidak dilakukan sejak dini, kasus ini akan mengakibatkan 10 juta kematian di tahun 2050, [1]. Beberapa kasus yang terjadi diantaranya adalah infeksi Methicillin-Resistance Staphylococcus aureus (MRSA) [2], Drug Resistance Streptococcus pneumoniae penyebab peradangan paru-paru, Multi Drug Resistance dan Extensively Drug Resistance Tuberculosis (MDR TB dan XDR TB) [3]. USAID memprediksikan 2% dari kasus baru TB dan 12% kasus TB dalam masa penyembuhan berkembang menjadi resisten antibiotik [4]. Hal yang terjadi menggambarkan seberapa memprihatinkan kondisi saat ini saat dunia teknologi medis berkembang dengan pesat, namun kematian akibat infeksi akan meningkat beriringan dengan menurunnya efektivitas antibiotik yang ada.

 

Oleh karena itu, untuk mengurangi penggunaan antibiotik secara berlebihan sebagai upaya menekan perkembangan bakteri resisten, maka sudah peran bagi setiap orang untuk melakukan beberapa tindakan sederhana, diantaranya [5]:

  • Setiap penggunaan antibiotik harus sesuai dengan dan hanya dari resep dokter.
  • Habiskan antibiotik yang diresepkan, walau keadaan sudah terasa membaik.
  • Tidak meminta antibiotik, jika dokter atau tenaga medis mengatakan tidak perlu.
  • Selalu ikuti anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik.
  • Tidak membagi antibiotik kepada orang lain atau pun menggunakan antibiotik sisa.
  • Cegah infeksi dengan mencuci tangan secara teratur, terapkan hidup bersih, hindari kontak langsung dengan orang sakit, tidak melakukan seks bebas, dan perbaharui vaksin sesuai anjuran.

 

Setelah tahu bagaimana tindakan penggunaan antibiotik dengan bijak, tentu akan lebih baik jika kita dapat mencegah serangan penyakit infeksi, sehingga penggunaan antibiotik akan ikut berkurang. Pola hidup sehat adalah kunci utama dalam hal menjaga kesehatan tubuh, beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya:

  • Olahraga teratur
    • Dengan melakukan olah raga teratur fungsi organ tubuh dapat berjalan dengan baik, termasuk memperlancar sirkulasi peredaran sel-sel imun sehingga dapat bekerja dengan efektif [6]. Hasil penelitian menyarankan untuk olahraga setidaknya 20-30 menit setiap hari atau total 2.5 jam dalam seminggu [7].
  • Makan makanan yang bergizi
    • Makan berbagai varian makanan bergizi itu sangat penting untuk tetap menyuplai zat gizi mikro seperti vitamin (vitamin B6, C, D3) [8] [9] [10] dan mineral (zink, besi, magnesium) [11] karena kedua zat ini dapat membantu meningkatkan kerja sistem imun, dan untuk mendapatkannya, konsumsi variasi buah dan sayuran merupakan tindakan yang paling tepat.

 

Sudah tahu kan dampak penggunaan antibiotik. Nah sekarang sudah saatnya kita mulai menggunakan antibiotik dengan bijak serta memilih untuk hidup sehat karena pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

 

*) Resisten antimikroba, antimicrobial resistance (AMR) merupakan fenomena ketika mikro-organisme (bakteri, fungi, parasit dan virus) berubah menjadi kebal terhadap obat-obatan antimikroba. Secara spesifik resisten antimirkoba pada bakteri muncul karena resistensi terhadap antibiotik.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Red ginseng and vitamin C increase immune cell activity and decrease lung inflammation induced by influenza A virus/H1N1 infection

  2. Alterations in early cytokine-mediated immune responses to Plasmodium falciparum infection in Tanzanian children with mineral element deficiencies: a cross-sectional survey,"

Tentang Penulis dan Penyunting

I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c)
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva saat ini merupakan salah satu mahasiswa magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam...
Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.