Dari Mata Turun ke Lambung

Makan
Mattia Luigi Nappi (Own work)
CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)

Tubuh kita memiliki kinerja tersendiri bagaimana menyampaikan sinyal kepada kita bahwa tubuh tengah membutuhkan asupan energi lagi. Yak, itulah rasa lapar. Sedikit gambaran penyampaian sinyal tersebut dari kacamata fisiologis bisa disimak di sini.

 

Ternyata tubuh manusia yang unik ini tidak bisa lepas dari sisi psikologis, pun di ranah rasa lapar. Sinyal-sinyal dari luar tubuh itu diterima tubuh kita hingga membuat kita merasa lapar. Beberapa di antaranya dirangkum oleh seorang ilmuwan di Williams College [1] sebagai berikut:

 

  • Sinyal sensorik eksternal

Indera penglihatan, penciuman bahkan pendengaran bisa membuat kita merasa lapar walaupun tubuh sedang tidak membutuhkan energi tambahan. Lambert et al. [2] melakukan penelitian kepada beberapa relawan dengan memberikan perlakuan berupa pemberian gambar coklat, mengicip sedikit coklat dan penjabaran coklat tersebut dengan kata-kata. Hasilnya dari semua relawan yang diberi perlakuan mengaku menjadi lebih ingin memakan coklat tersebut ketimbang yang sama sekali tidak diberi perlakuan.

 

  • Sinyal normatif eksternal

Kebiasaan yang berlaku di masyarakat ternyata mempengaruhi seberapa banyak makanan yang kita asup. Pada umumnya orang mempunyai tendensi untuk menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Wansink [3] melakukan sebuah percobaan kepada relawan untuk memakan masakan di mangkok. Mangkok perlakuan pertama berisi makanan sesuai volume mangkok tersebut sedangkan mangkok perlakuan kedua secara berkesinambungan diisi kembali dengan makanan sebelum makanan tersebut habis disantap relawan. Hasilnya dari relawan yang memakan mangkok yang terisi kembali itu memakan jauh lebih banyak makanan. Hal ini menunjukkan rasa lapar kita kadang tak bisa berhenti sebatas karena perut sudah kenyang namun terpengaruh juga dengan kebiasaan dan ekspektasi terhadap jumlah makanan tersebut.

 

  • Pengaruh sosial

Ada atau tidaknya teman makan kita ternyata berpengaruh juga. Redd [4] melakukan eksperimen kepada mahasiswa untuk makan bersama dibandingkan dengan yang makan sendirian. Ternyata dari yang makan bersama menunjukkan jumlah asupan makanan yang lebih besar sampai 60% dibandingkan dengan yang makan sendiri.

 

  • Stres

Faktor psikologis lainnya yang berpengaruh terhadap laparnya seseorang adalah stres. Penelitian yang dilakukan oleh Groesz [5] menunjukkan bahwa adanya stres pada wanita menunjukkan peningkatan keinginan makan yang ditandai dengan munculnya rasa lapar hingga hilangnya kemampuan mengendalikan makan. Kandiah [6] juga menambahkan, bahwa rasa lapar akibat stres tersebut umumnya membuat pelakunya lebih ingin mengonsumsi makanan manis seperti keik serta makanan sejenis burger. Hal ini semakin menguatkan faktor stres sebagai salah satu penyebab obesitas juga.

 

Nah, semakin sadar bahwa terkadang kita merasa lapar padahal sebenarnya tidak lapar kan? Mari kembali ingat tujuan makan kita tidak hanya sekedar menyenangkan lidah semata namun untuk kesehatan tubuh kita juga.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

rifqi's picture
Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.